Home » » Riset dan Harapan Pendidikan Indonesia

Riset dan Harapan Pendidikan Indonesia

Saat merayakan hari pendidikan tanggal 2 Mei kemarin, terbesit harapan bahwa Indosia kelak menjadi kiblat pendidikan di Asia. Harapan ini dipicu oleh maraknya pelajar terbaik indonesia yang justru menempuh pendidikan di luar negeri.

Mengapa pendidikan diluar Negeri bisa begitu berkembang? salah satu faktornya adalah "Riset". Loh bukanya di Indonesia juga ada riset? bahkan telah dimuat paper internasional.

Ada perbedaan mendasar riset di negara-negara maju dengan riset yang ada di Indonesia. Di Negara-negara maju, antara Lembaga riset, pemerintah dan korporasi saling berhubungan. Pemerintah dalam hal ini memberikan dana yang besar pada lembaga riset seperti kampus,serta memberikan penghargaan yang besar pada inventor. Hasil riset kemudian dierapkan pada korporasi. dan Laba korporasi akan ke pemerintah.

Inti dari ini adalah bagaimana riset bukan hanya menjadi sekedar opini seperti indonesia. Di Indonesia begitu banyak riset yang sangat cemerlang tapi hanya berujung opini. Liat saja bagaimana temuan anak bangsa yang menang olimpiade, sangat mengagumkan. atau coba tengok hasil karya siswa di LKIR yang dilaksanakn LIPI semuanya amazing.

Atau coba tengok hasil karya para inventor kita yang orang-orangnya harus susah payah dan bahkan harus masuk penjara. Liatlah bagaimana sulitnya Dr. Warsito memperjuangkan risetnya yang akhirnya kliniknya dihentikan pemerintah (padahal temuannya telah dipakai di Jepang, jerman, dan Ploandia). Ricky Elson dengan mikroturbinnya yang jauh-jauh dari jepang diboyong oleh Dahlan Iskan dan harus meninggalkan semua kesuksesannya untuk membangun mobil listrik malah karyanya dibajak dan tak berlanjut atau kusrin yang harus masuk penjara.dan coba tengok mengapa para inventor kita lebih senang kerja diluar negeri. atau coba tengok nasib mobil Esemka yang hanya jadi bahan Kampanye.

Meningkatkan kualitas pendidikan bukan hanya sekedar meningkatkan kualitas guru dan fasilitas, tapi bagaimana riset menjadi ujung tombak berkembangnya bangsa.

Liat saja bagaimana di Ingris, PR saja dikurangi bahkan ditiadakan pada sekolah tingkat dasar year 1 dan year 2 karena ada riset dari universitas tentang terganggunya tumbuh kembang anakan akibat seringnya PR. dan hal ini masih terus diperdebatkan dikalagna pemerintah.

sedangkan di Indonesia, hanya masalah kurikulum, begitu repot, bolak-balik yang ujung-ujungnya murid jadi kelinci percobaan, guru yang repot selalu menyesuaikan.

jika Indonesia ingin menjadi kiblat pendidikan di asia maka memang harus meningkatkan kualitas guru yang saat ini komptensi rata-rata guru masih dingka 40 belum mencapai standar 70. Indeks baca siswa Indonesia pun masih 0.001. dan tentunya adalah bagaimana pemerintah mencurahkan perhatiannya pada riset. dan kita cukup bersyukur sekarang ada menristek. ya tinggal bagaimana riset itu bisa menjadi fakta yang dirasakan.

0 komentar:

Post a Comment