Home » , » Teori Pereaksi dan Larutan Pereaksi

Teori Pereaksi dan Larutan Pereaksi

Teori Pereaksi dan Larutan PereaksiPereaksi disingkat P adalah suatu zat yang digunakan sebagai pereaksi atau  sebagai unsur pokok dari larutan, indikator adalah pereaksi yang digunakan untuk menyatakan titik akhir suatu reaksi kimia, untuk mengukur kadar ion Hidrogen (pH) atau untuk menyatakan bahwa perubahan pH sudah terjadi. Ini terdapat dalam daftar indikator dan kertas uji. Larutan dapar seperti yang tertera pada larutan dapar (Dirjen POM, 1995).

Larutan pereaksi disingkat LP adalah larutan dari pereaksi dalam pelarut dan kadar tertentu yang sesuai untuk penggunaan tertentu. Air jika dalam uji untuk pereaksi atau dalam petunjuk pembuatan larutan uji dan sebagainya digunakan air tanpa kualifikasi khusus selalu menggnakan Air Murni seperti yang tertera pada monografi Farmakope Indonesia IV. Seperti dinyatakan dalam ketentuan umum, daftar pereaksi, indikator dan larutan dalam farmakope tidak termasuk zat yang mempunyai kegunaan terapi, sehingga di dalam farmakope dinyatakan dengan pereaksi atau mutu pereaksi (Ditjen POM, 1995).
Larutan baku primer berfungsi untuk membakukan atau untuk memastikan konsemtrasi larutan tertentu, yaitu larutan atau pereaksi yang ketepatan/kepastian konsentrasinya sukar diperoleh melalui pembuatannya secara langsung. Larutan yang sukar dibuat secara kuantitatif ini selanjutnya dapat berfungsi sebagai larutan baku (disebut larutan baku sekunder) setelah dibakukan jika larutan tersebut bersifat stabil sehingga dapat digunakan untuk menetapkan konsentrasi larutan lain atau kadar suatu cuplikan. Larutan baku primer harus dibuat seteliti dan setepat mungkin (secara kuantitatif). Zat yang dapat digunakan sebagai zat baku primer hatus memenuhi persyaratan seperti berikut:
·      Kemurniannya tinggi (pengotornya tidak melebihi 0,02%)
·      Stabil (tidak menyerap H2O dan CO2; tidak bereaksi dengan udara; tidak mudah menguap; tidak terurai; mudah dan tidak berubah pada pengeringan). Zat yang stabil berarti memiliki rumus kimia yang pasti dan akan memudahkan penimbangan
·      Memiliki bobot molekul (BM; Mr) atau bobot ekuivalen (BE) tinggi
·      Larutannya bersifat stabil (HAM,2009)
Disamping larutan baku primer, dikenal juga larutan baku sekunder. Larutan ini kebakuannya (kepastian molaritasnya) ditetapkan langsung terhadap larutan baku primer. Jika suatu larutan baku sekunder bersifat stabil dan dikemas/disimpan dengan benar, larutan ini dapat berfugsi sebagai larutan baku dan langsung dapat digunakan tanpa harus dibakukan lagi (HAM,2009).

0 komentar:

Post a Comment