Home » » Pencemaran Udara

Pencemaran Udara

Pencemaran Udara
Udara tidak pernah bersih tetapi selalu mengandung partikelpartikel asing yang jika konsentrasinya terlalu tinggi dapat menyebabkan kualitas udara berkurang atau tidak berfungsi sesuai peruntukannya. Hal ini tercantum dalam Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 02/MENKLH/1988, yang menyatakan bahwa pencemaran udara, adalah :

Masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan / atau komponen lain ke dalam udara dan / atau berubahnya tatanan (komposisi) udara oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa setiap pembebasan bahan atau zat ke udara tidak harus selalu dikatakan pencemaran udara selama bahan tersebut secara potensial tidak mengubah stabilitas kualitas udara dan untukmenimbulkan gangguan harus dipenuhi dahulu angka batas. Pencemaran udara luar ruang berasal dari proses – proses alam (letusan gunung berapi, kebakaran hutan) serta akibat kegiatan manusia, meliputi sumber bergerak (transportasi) dan tidak bergerak (industri, limbah rumah tangga).

Asal pencemaran udara dapat diterangkan dengan 3 (tiga) proses, yaitu atrisi (attrition), penguapan (vaporization) dan pembakaran (combustion). Dari ketiga proses tersebut di atas, pembakaran merupakan proses yang sangat dominan dalam kemampuannya menimbulkan bahan polutan.
Jenis pencemar udara primer yang dihasilkan umumnya berupa gas, meliputi CO, NOx, HC, SOx dan partikel. Kecepatan dan arah angin sangat berpengaruh terhadap pencemaran udara luar ruangan karena angin kencang yang bergolak kuat menyebabkan konsentrasi pencemar menjadi encer, sedangkan angin reda bergolak lemah menyebabkan konsentrasi menjadi pekat dan kecepatan angin
ini dapat menjadi petunjuk arah penyebaran dan fluktuasi konsentrasi pencemar di
udara.
penggunaan batu bara merupakan salah satu penyebab kotornya udara. Dampak negatif terhadap pemakaian bahan bakar batu bara adalah emisi gas yang mencemari udara berupa hidro carbon (HC), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), carbon monoksida (CO), carbon dioksida (CO2) dan debu.

Pembakaran biomassa dan batu bara menghasilkan kombinasi polutan yang berasosiasi dengan berbagai tingkat kejadian ISPA, PPOK, asma, kanker, nasopharynx, larynx, kanker paru (for coal smoke), TBC dan penyakit mata“.

Pertambangan batu bara Indonesia pada umumnya memproduksi batu bara dengan calorific value bervariasi antara 5.000 – 7.000 Kcal/Kg, dengan kadar abu dan belerang yang rendah. Kadar belerang dalam batu bara yang dihasilkan di Indonesia umumnya di bawah 1,0 %, dengan emisi gas SO2 yang rendah.


Batu bara dan minyak bumi mengandung sejumlah kecil (0,5 – 5 % massa) sulfur yang merupakan bahan pengotor. Bila bahan bakar dibakar, kotoran – kotoran sulfur bereaksi dengan O2 dan  enghasilkan SO2. Gas tersebut keluar melalui cerobong asap dan masuk ke dalam atmosfir. Dalam beberapa hari sebagian besar dari SO2 di atmosfir tersebut dikonversi menjadi SO3, yang kemudian bereaksi dengan air di udara untuk membentuk droplet dari asam sulfat (H2SO4). Kabut atmosfir dari asam sulfat tersebut dapat merusak logam dan bahan – bahan lainnya menyebabkan iritasi pada mata serta merusak paru – paru.

0 komentar:

Post a Comment