Home » , » Sejarah tanaman obat Tradisional di Indonesia

Sejarah tanaman obat Tradisional di Indonesia

Sejarah tanaman obat Tradisional di Indonesia


Pemanfaatan tanaman sebagai obat-obatan di Indonesia juga telah berlangsung ribuan tahun yang lalu. Pertengahan abad ke XVII seorang botanikus bernama Jacobus (1592–1631) mengumumkan khasiat tanaman-tanaman dalam bukunya De Indiae Untriusquere Naturali et Medica. Meskipun hanya 60 jenis tanaman-tanaman yang diteliti, tetapi buku ini merupakan dasar dari penelitian tanaman-tanaman obat oleh N.A. van Rheede tot Draakestein (1637–1691) dalam bukunya Hortus Indicus Malabaricus. Tahun 1888 didirikan Chemis Pharmacologisch Laboratorium sebagai bagian dari Kebun Raya Bogor dengan tujuan menyelidiki bahan-bahan atau zat-zat yang terdapat dalam tanaman-tanaman yang dapat digunakan untuk obat-obatan. Selanjutnya penelitian dan publikasi mengenai khasiat tanaman obat-obatan semakin berkembang (Anonim, 2010).
Sejak zaman dahulu masyarakat Indonesia mengenal dan memakai tanaman berkhasiat obat, sebagai salah satu upaya dalam penanggulangan masalah kesehatan yang dihadapi, jauh dari pelayanan kesehatan formal dengan obat–obatan modern menyentuh masyarakat (Wijayakusuma,Dalimartha dan Wirian, 1995).
Indonesia sendiri tanaman obat telah digunakan oleh masyarakat sejak seratus tahun yang lalu. Pengalaman nenek moyang kita dalam meramu tanaman untuk pengobatan tradisional telah diwariskan dari generasi kegenerasi. Penggunaan secara tradisional tanaman untuk pengobatan di Indonesia kembali kepada zaman prasejarah. Seni dan pengetahuan penggunaan tanaman sebagai obat diturunkan secara lisan dari generasi kegenerasi. Bebrapa tanaman yang masih digunakan dalam pengobatan tradisional dapat ditemukan pada dinding–dinding Candi di Jawa seperti Borobudur, Prambanan, Penataran, dan Sukuh (De Padua et, al.1999 dalam Gailea, 2004).
Perkembangan demi perkembangan telah tercapai, sehingga selanjutnya seorang apoteker bernama Martius dalam bukunya yang berjudul Grundriss der Pharmakognosie des Pflanzenreiches telah berhasil menggolong–golongkan tanaman–tanaman obat menurut segi morfologi, dan dengan demikian pula maka kemurnian tanaman–tanaman obat itu dapat diketahui kemurniannya.ini penting untuk memisahkannya dari yang palsu (Kartasapoetra, 1992).
Tahun 1838 seorang ahli botani Jerman, Schleiden, telah berhasil  mengungkapkan bahwa tanaman–tanaman itu tersusun dari sel–sel, sehingga pada tahun 1857 ia berhasil menegaskan melalui karya tulisnya, bahwa perbedaan susunan sel tersebut hendaknya sangat diperhatikan dalam membedakan mana tanaman obat yang murni dan mana pula tanaman obat yang tidak murni.Sehingga pada akhirnya, atas jasa–jasa Egon Stahl, seorang ahli tanaman obat bangsa Jerman, yang telah berhasil mengemukakan hasil–hasil penelitian zat–zat yang terkandung dalam tanaman–tanaman obat tradisonal, maka berbagai jenis tanaman obat kini merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi pembuatan obat–obatan yang muktakhir (Kartasapoetra, 1992).
Sumber :
Id.wikipedia.org
Kartasapoetra G., 1992. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat. Meningkatkan Apotek Hidup dan Pendapatan Para Keluarga Petani dan PKK. Aneka Cipta, Jakarta.
Gailea, R., 2004. Identifikasi Pemanfaatan Dan Pengembangan Tumbuhan Obat di Sekitar Taman Nasional Lore Lindu. Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam Dan Lingkungan Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor

0 komentar:

Post a Comment