Home » , » Antara Kimia dan Arkeologi

Antara Kimia dan Arkeologi


Peneliti mempelajari hubungan lingkungan dan ekologi prasejarah sehingga mereka bisa merekonstruksi interaksi masa lalu antara tanaman, hewan dan leluhur kita. Penelitian ini juga membantu mencipta ulang manusia purba dan pola makan manusia purba dengan menemukan makanan yang tersedia dalam lingkungan dimana mereka hidup.
Hewan adalah sumber informasi yang baik mengenai lingkungan massa lalu. Studi pada anatomi mereka mengungkapkan apakah mereka pemakan rumput atau buah. Informasi ini dapat membantu merekonstruksi lingkungan. Isotop karbon 13 dalam gigi hewan juga memberi petunjuk mengenai apa yang dimakan sang hewan.
Tanaman digolongkan pada dua tipe yang berbeda secara kimia tipe C3 dan tipe C4. Tanaman tipe C3 termasuklah pohon, perdu dan tanaman berkayu lainnya; tanaman C4 sebagian besar rerumputan. Karena tanaman C3 mengandung lebih sedikit isotop karbon 13 daripada tanaman C4, para peneliti dapat mengukur rasio karbon-12 terhadap karbon-13 dalam gigi hewan. Tingginya level karbon-13 menunjukkan kalau hewan ini memakan rumput – atau memakan hewan lain yang memakan rumput.
Karena tanaman lebih jarang menjadi fosil ketimbang hewan, kehidupan tanaman prasejarah lebih sulit di rekonstruksi. Untungnya, hal yang sama tidak berlaku pada serbuk sari tanaman, yang sering terjebak dalam tanah dan terlestarikan selama berjuta tahun. Studi serbuk sari yang memfosil disebut palinologi. Karena tiap tanaman memiliki serbuk sari yang unik bentuknya, tanaman purba dapat ditentukan dari fosil serbuk sarinya. Tanaman yang memang memfosil disebut fitolit; cetakan bentuk daun atau batang juga sering ditemukan.

Penentuan Usia Fosil

Usia fosil bisa ditentukan dengan metode peluruhan radioaktif. Unsur yang sering digunakan untuk kegiatan ini adalah atom karbon-14 (C-14). Setiap mahluk hidup (manusia, binatang dan tumbuhan) dan benda mati di Bumi ini mengandung karbon-14.
C-14 mempunyai waktu paruh 5.730 tahun, maksudnya jika dalam tubuh mahluk hidup terdapat 1000 atom C-14, 5.730 tahun setelah mahluk hidup itu mati, jumlah atom C-14 akan berkurang setengahnya menjadi 500. 5.730 tahun berikutnya atau 11.460 tahun kemudian jumlahnya tersisa 250 dan seterusnya.
Dengan mengukur jumlah C-14 yang terkandung pada fosil, umur fosil bisa ditentukan. Untuk rekaman sepanjang sejarah, metode ini cukup baik dengan penyimpangan akurasi sekitar beberapa ratus tahun. Untuk penentuan usia fosil jaman prasejarah, digunakan unsur lain seperti rubidium-87 yang waktu paruhnya 50 juta tahun atau samaryum-147 yang mempunyai waktu paruh selama 100 juta tahun

0 komentar:

Post a Comment