Home » » RABIES ( HYDROPHOBIA, LYSSA )

RABIES ( HYDROPHOBIA, LYSSA )

Oleh   : Zulfiani
Editor : Rajman


A. Identifikasi

Suatu penyakit encephalomyelitis viral akut dan fatal. Serangan biasanya dimulai dengan perasaan ketakutan, sakit kepala, demam, malaise, perubahan perasaan sensoris, pada bekas gigitan binatang. Gejala yang sering muncul adalah eksitabilitas dan aerophobia. Penyakit ini berlanjut kearah terjadinya peresis atau paralisis, kejang otot-otot menelan menjurus pada perasaan takut terhadap air (hydrophobia), diikuti dengan delirium kejang. Tampa intervensi medis, biasanya berlangsung 2-6 hari dan kadang-kadang lebih, kematian biasanya karena paralisis pernafasan


B. Penyebab Penyakit

Virus rabies, rhabdovirus dari genus lyssavirus. Semua anggota virus ini mempunyai persamaan entigen, namun dengan teknik antibodi monoclonal dan nucleotide sequencing dan virus menunjukkan adanya perbedaan tergantung spesies binatang atau lokasi geografis dari mana mereka berasal. Virus yang mirip dengan rabies ditemukan di afrika ( Mokola dan Duvenhage) jarang menyebabkan kesakitan pada manusia mirip seperti rabies dan jarang fatal. Lissavirus baru telah ditemukan pertama kali pada tahun 1996, pada beberapa spesies dari flying fox dan kelalawar di australia dan telah menyebabkan dua kematian pada manusia dengan gejala penyakit seperti rabies. Virus ini dengan sementara diberi nama “ lissavirus kelalawar Australia“.

Virus Ini mirip dengan virus rabies namun tidak identik dengan virus rabies klasik. Sebagian penderita penyakit yang disebabkan oleh virus yang mirip rabies ini dengan teknik pemeriksaan standard FA test kemungkinan didiagnosa sebagai rabies.


C. Cara-Cara Penularan

Air liur binatang yang sakit mengandung virus menularkan virus melalui gigitan atau cakaran (dan sangat jrang sekali melalui luka baru dikulit atau melalui selamut lender yang utuh). Penularan dari orang ke secara teoritis dimungkinkan oleh karena liur orang yang terinfeksi dapat mengandung virus, namun hal ini belum pernah didokumentasikan. Trnsplantasi organ (cornea) dari orang yang meninggal karena penyakit siste saraf pusat yang tidak terdiagnosa data menularkan rabies pada penerima orang tadi. Penyebaran melalui udara telah dibuktikan terjadi disuatu goa dimana terdapat banyak kelalawr yang hinggap dn pernah juga terjadi di laboratorium. Namun kejadiannya sangat jarang. Di Amerika latin, penularan melalui kelalawar vampire yang terinfeksi pada binatang domestic sering terjadi. Di Amerika Serikat kelalawar pemakan serangga jarang menularkan rabies kepada binatang di darat baik kepada binatang domestic maupun binatang liar.



D. Masa Inkubasi

Biasanya berlangsung 3- 8 minggu, jarang sekali sependek 9 hari atai sepanjang 7 tahun. Masa inkubasi sangat tergantung pada tingkat keparahan luka, lokasi luka yang erat kaitanya dengan keeadan jaringan saraf di lokasi luka dan jarak luka dari otak, dan tergantung pula dengan jumlah dan strain firus yamg masuk, serta tergantung dari perlindungan oleh pemakean dan faktor-faktor laind. Masa inkubasi yang panjang terjadi pada individu prepubertal.



E. Masa Penularan

pada anjing dan kucing, biasanya 3 – 7 hari sebelum munculnya gejala klinis ( jarang lebih dari 4 hari ) dan selama periode sakit. Masa penularan yang lebih panjang sebelum munculnya gejala klinis ( yaitin 14 hari ) telah diamati di Ethiopia pada strain virus rabies pada anjing. Pada satu studi di ketahui kelalawar mengeluarkan virus melalui tinjanya 12 hari sebelum sakit , pada studi lain skunk mengeuarkan virus melalui tinjanya untuk paling sedikit 8 hari sebelum munculnya gejala klinis. Skunk mungkin mengeluarkan virus 18 hari sebelum mati.



F. Kerentanan dan Kekebalan
Semua mamalia rentan terhadap rabies dengan berbagai tingkatan yang sangat dipengaruhi oleh starain virus. Manusia sangat resisten terhadap infeksi dibandingkan dengan banyak spesies binatang, hanya sekitas 40% daro orang iran yang dipastikan digigit binatang yang menderita rabies berkembang menjadi sakit.



G. Cara-Cara Pencegahan

  1. Lakukan pendaftaran, berikan lisensi dan imunisasi kepada semua anjing di negara-negara enzootic ; tangkap dan bunuh binatang yang tidak ada pemiliknya dan berkeliaran di jalanan. Imunisasi semua kucing. Berikan penyuluhan kepada semua pemilik binatang peliharaan dan kepada masyarakat tentang pentingnya pemberantasan terhadap kucing dan anjing (bahwa hewan peliharaan harus diikat bila berada paa tempat yang ramai kalau tidak isa dikandangkan, bahwa kalau ada hewan yang berkelakuan aneh atau sakit baik hewan domestik maupun hewan liar, hewan ini mungkin berbahaya dan sebaiknya tidak diambil atau disentuh. Kalau ditemukan anjing atau binatang berperilaku aneh dan binatang yang menggigit manusia atau yang menggigit binatang lainnya segera laporkan kepada polisi atau kepada petugas kesehatan setempat. Binatang tersebut harus ditangkap, dikandangkan untuk diobservasi sebagai upaya pencegahan terhadap rabies ; dan binatang liar tadi jagan dipelihara sebagai binatang peliharaan. Oleh karena upaya pemberantasan dan mengguragi populasi anjing secara terus-menerus merupakan upaya yang efektif.
  2. Pertahankan kegiatan surveilans aktif terhadap rabies pada binatang. Kapaitas laboratorium harus dikembangkan untuk dapat melakukan pemeriksaan FA pada semua jenis binatang liar yang terpajan dengan manusia atau terpajan dengan binatang peliharaan dan pemeriksaan terhadap semua binatang peliharaan yang secara klinis diduga mengidap rabies. Berikan penyuluhan kepada dokter , dokter hewan dan petugas pengawasan binatang agar menangkap atau membunuh atau melakukan pemeriksaan laboratorium pada binatang yang terpajan dengan manusia atau terpajan dengan binatang peliharaan.
  3. Penahanan dan observasi klinis selama 10 hari dilakukan terhadap anjing ataupun kucing yang walaupun tampak sehat dan diketehui telah menggigit orang (sedangkan anjing dan kucing yang tidak ada pemiliknya dapat langsung dibunuh dan diperiksa untuk rabies dengan mikroskop fluorescence) ; anjing dan kuncing yang menunjukan gejala yang mencurigakan terdapat kemungkinan rabies harus dibunuh dan diperiksa rabies. Bila binatang yang menggigit terinfeksi waktu menggigit, gejala rabies akan muncul dalam waktu 4-7 hari, dengan timbulnya perubahan perilaku dan ekstabilitas atau terjadinya kelumpuhan dan diikuti dengan kematian.semua bintang liar yang menggigit manusia harus dibunuh segera dan otaknya diambil dan diperiksa untuk pembuktian rabies. Pada kasus gigitan oleh binatang peliharaan yang berperilaku normal atau binatang peliharaan yang sagat mahal atau binatang yang di kebun binatang maka lebih tepat untuk dipertimbangkan pemberian profilaksis pasca pajanan keadaan korban gigitan dan sebagai ganti pemusnaan binatang dilakukan karantina selama 3-12 minggu.
  4. Segera kirim ke laboratorium, kepala utuh dari bintang yang mati dan kepala yang dicurigai rabies, dikemas dalam es (tidak beku),untuk dilakukn pemeriksaan antigen viral dengan pewanaan FA, atau bila pemeriksaan ini tidak tersedia dengan pemeriksaan mikroskopis untuk badan negeri, diikuti dengan inokulasi pada tikus.
  5. Segera bunuh anjing atau kucing yang tidak diimunisasi dan yang telah digigit oleh binatang liar, apa bil pilihannya adalah mengurung maka kurunglah binatang pada kandang atau kurungan yang terbukti aman untuk paling sedikit 6 bulan dibawah supervisi dokter hewan dan diimunisasi dengan vaksin rabies 30 hari sebelum dilepas. Bila binatang tersebut sudah pernah diimunisasi, lakukan imunisasi ulang dan tahan (diikat atau dikurung ) binatang tersebut paling sedikit selama 45 hari.
  6. Imunisasi degan vaksin oral untuk reservoir binatang liar yaitu vaksin yang berisi virus yang telah dilemahkan atau vaksin vector recombinant telah terbukti efektif dapat mengeliminasi rebies pada rubah disebagian eropa dan kanada. Tekniini sedang dievaluasi di amerika serikat dengan meggunakan droping dai udara dengan umpan yang berisi vaksin recombinant.
  7. Kordinasikan program pemberantasan rabies dengan bekerja sama dengan otoritas suaka binatang liar untuk mengurangi populasi rubah, skunk, racoon, dan binatang darat liar lainnya yang merupakan host dari sylvatic rabies di daerah enzootik yang mengitari daerah perkemahan atau daerah hunian manusia. Apa bila kegiata depopolasi terhadap binatang tersebut secara lokal telah dilakukan, harus dipertahankan untuk menahan terjadinya peningkatan kembali populasi binatang tadi dari daerah sekitarnya.
  8. Orang yang beresiko tinggi ( dokter hewan, petugas suaka alam dan petugas keamanan taman di daerah enau epizootik epizootik, petugas pada karantina, laboratorium dan petugas lapangan yang bekerja dengan rabies dan wisatawan yang berkunjung dalam waktu yang lama kedaerah endemis rabies ) harus diberiimunisasi prapajanan. Ada 3 jenis vaksin rabies yang beredar di pasaran di amerika serikat yaitu Human Diploid Cell rabies Vaccine (HDCV). satu jenis vaksin inaktivitas yang dibuat dari virus yang ditumbuhkan pada kultur sel diploid manusia ; kemudian Rabies vaccine Adsorbed (RVA). Yaitu jenis vaksin inaktivasi yang ditumbuhkan pada sel diploid rhesus; dan jenis vaksin yang ke 3 adalah Purified Chick Embryo Cell vaccine (PCBC), vaksin inaktivasi yang ditumbuhkan pada kultur primer dari fiboblast ayam. (vaksin kultur sel yang poten dari jenis lain tersedia dinegara yang lain). Setiap jenis vaksin dapat diberikan dalam 3 dosis masing-masing 1,0 cc (IM) pada hari 0,7 dan hari ke-21 atau ke-28. Regimen inicukup memuaska sehingga pemeriksaan serologi pasca imunisasi tidak dilakukan secara rutin kucuali pada kelompok tertentuyang beresiko tinggi atau orang yang mengalami immunodeficiency.

Bila resiko pajanan berlanjut,maka pmberian booster dosis tunggal atau pemeriksaan serum untuk melihat antibody neutralizing dilakukang setiap 2 tahun.Dengan dosis booster kalu ada indikasi.HCDV juga telah disetujui untuk dipakai untuk imunisasiprapajanan dengan pemberian intradermal (ID) sebesar 0,1 cc diberikan pada hari ke-0, 7 dan 21 atau 28. bila imunisasi diberikan untuk persiapan perjalanan ke daerah endemis rabies, 30 hari lebih harus dilewati terlebih dahulu setelah dosis ke tiga sebelum berangkat , kalau tidak mak pemberian imunisasi harus IM . Imunisasi ID secara umum memberikan hasil yang sangat bagus di Amerika Serikat, namun respons antibody rata-rata agak rendah dan durasinya mungkin lebih pendek dibandingkan dengan dosis 1 cc IM. Namun respon antibody untuk imunisasi ID berubah-rubah pada beberapa kelompok yang sedang mendapatkan pengobatan chloroquine sebagai chemoprophylaxis anti malaria, sehingga pemakean ID tidak anjurkan pada situasi ini kecuali di tempat tersebut tersedia fasilitas untuk pemeriksaan serta untuk melihat liter antibodi neutralizing. Walau pun respon kekebalan tidak pernah dievalasi secara structural untuk antimalaria sejenis chloroquine (mefloquine, hidroxycloroquine). Maka kewaspadaan serupa bagi individu yang menerima obat ini harus dilakukan. RVA dan PCBC jangan diberikan intradermal.







0 komentar:

Post a Comment