Home » , , » DAMPAK FLOURIDA, SIANIDA DAN TOTAL KROMIUM DALAM AIR

DAMPAK FLOURIDA, SIANIDA DAN TOTAL KROMIUM DALAM AIR

oleh     :   Zulfiani
Editor  :  Rajman

download makalah Dampak Flourida, Sianida dan Kromium dalam Air disini

A.      PENDAHULUAN
     Peraturan Menteri Kesehatan tentang pelestarian kualitas air digunakan untu mengevaluasi hasil monitoring Dinas Kesehatan di dalam program pengawasan kualitas air yang berhubungan dengan kesehatan. Peraturan-peraturan tersebut antara lain “

  1. Permenkes RI No. 01/BIRHUKMAS/ I / 1975 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air        Minum 
  2. Permenkes RI No. 172/ Menkes/Per/VIII/1977 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air  Kolam Renang 
  3. Permenkes RI No. 173/Menkes/Per/VIII/1977 tentang Pengawasan Pencemaran Air dari badan Air untuk Berbagai kegunaan yang berhubungan dengan kesehatan
  4. Permenkes RI No. 257/Menkes/Per/VI/1982 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Pemandian Umum 
  5. Permenkes RI No. 528/Menkes/Per/XII/1982 tentang Kualitas Air Tanah yang Berhubungan dengan Kesehatan 


B.     PENYIMPANGAN KUALITAS AIR TERHADAP KESEHATAN
         Dampak penyimpangan angka standar kualitas air terhadap kesehatan dapat bersifat langsung maupun tak langsung. Berikut ini disampaikan dampak penyimpangan parameter fisika, kimia, radioaktif dan mikrobiologi ( bakteriologi ) seperti yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI tentang Kualitas Air, terhadap kesehatan masyarakat. 

1.      Dampak Penyimpangan Parameter Fisika 
       Penyimpangan parameter fisi k seperti bau, suhu, warna, rasa dan kekeruhan yang berlebihan, dapat mudah tercium atau terlihat oleh mata sehingga masyarakat dapat membedakannya. Biasanya air ini terpaksa dimanfaatkan jika dalam keadaan terpaksa, karena merupakan satu-satunya sumber air. Dampak penyimpangan parameter fisik terhadap kesehatan tidak bersifat langsung dan umumnya merupakan gangguan estetika atau iritasi, kecuali penyimpangan tersebut diakibatkan oleh organisme atau bahan-bahan kimia yang sangat beracun. 

2.      Dampak Penyimpangan Parameter Kimia
     Dampak penyimpangan parameter kimia tergantung dari jenis parameter kimianya, maka dampak penyimpangan yang ditimbulkan dapat bersifat estetis, racun yang kronis sampai akut, bahkan karsinogenik.

a.      Fluorida
       Flur (F)  merupakan salah satu unsure yang melimpah pada kerak bumi. Unsure ini ditemukan dalam bentuk ion fluoride (F-).  Sumber fluoride dialam adalah fluorspar  ( CaF2) , cryolite (Na3AIF6), dan flourapatite.keberadaan fluoride juga berasal dari pembakaran batu bara. Fluoride banyak digunakan dalam industri, besi baja, gelas, pelapisan logam, aluminium, dan pestisida (Eckenfelder, 1989)
       Perairan alami biasanya memiliki kadar fluoride kurang dari 0,2 Mg/l. pada air tanah dalam, kadar fluorida mencapai 10mg/l, pada perairan laut sekitar 1,3mg/l, sedangkan pada brine mencapai 600mg/l ( McNeely al., 1979). Peraian yang diperuntukan bagi air minum sebaiknya memiliki kadar fluoride 0,7-1,2 mg/l (Davis dan Cornwell, 1991). Untuk kepentingan pertanian, kadar fluoride yang dianjurkan adalah 10-15mg/l.
         Sejumlah kecil fluoride dalam air  terbukti menguntungkan bagi pencegahan kerusakan gigi, akan tetapi konsentrasi yang melebihi kisaran 1,7mg/l dapat mengakibatkan pewarnaan pada enamel gigi yang dikenal dengan istila mottling ( Davis dan Cornwell, 1991; Sawyer dan McCarty, 1978). Kadar yang berlebihan juga dapat berimplikasi terhadap kerusakan pada tulang. Selama proses pembentukan gigi pada bayi, fluoride bereaksi secara kimiawi dengan enamel menghasilkan gigi yang keras dan kuat
.
b.      Sianida
        Sianida di alam terdapat sebagai gas yang keluar dari dalam tanah dan mudah  larut dalam air. sianida merupakan kelompok senyawa anorganik dan organic dengan siano (CN) sebagai struktur utama. Biasanya, senyawa ini dihasilkan dalam pemprosesan logam. Sianida tersebar luas diperairan dan berada dalam bentuk ion sianida (CN-), hydrogen sianida  (HCN), dan metalosianida. Keberadaan sianida sangat dipengaruhi oleh pH, suhu, oksigen terlarut, salinitas, dan keberadaan ion lain. Sianida yang terdapat di perairan terutama berasal dari limbah industri, misalnnya industri pelapisan logam, pertambangan emas, pertambangan perak, industri pupuk, industri baja, industri tapioca, batik, atau pestisida.
       Sianida dapat menghambat pertukaran oksigen pada mahkluk hidup. Juga bersifat toksik bagi ikan; kadar sianida 0,2 mg/l sudah mengakibatkan toksisitas akut bagi ikan. Kadar sianida perairan yang dianjurkan sekitar 0,005 mg/l (Moore, 1991). Menurut WHO, kadar maksimal sianida yang diperkenankan 0,1 mg/l (Moore,1991)
         Sianida dalam bentuk ion mudah  terserap dalam bahan-bahan yang tersuspensi maupun oleh sedimen dasar. Sianida bersifat sangat reaktif, sianida bebas menunjukan adanya kadar HCN dan CN-. Pada pH yang lebih kecil dari 8, sianida berada dalam bentuk HCN yang dianggap lebih toksik bagi organisme akuatik daripada CN-. sianida yang berlebihan dalam air minum dapat mengganggu metabolism oksigen dalam  tubuh dan  mengganggu fungsi hati, serta pernafasan, dan menyebabkan kerusakan tulang (Moore, 1991).

c.       Total kromium
          Kromium (Cr) termaksud unsur yang jarang ditemukan pada perairan alami. Kerak bumi mengandung kromium sekitar 100mg/kg (Moore,1991). Kromium yang ditemukan diperairan adalah kromium trivalent (Cr3+) dan kromium heksavalen (Cr6+); namun, perairan yang memiliki pH lebih dari 5, kromium trivalent tidak ditemukan. Apabila masuk ke perairan, kromium trivalent akan di oksidasi menjadi kromium heksavalen yang lebih toksik.
         Kromium tidak pernah ditemukan sebagai logam murni. Sumber kromium alami sangat sedikit, yaitu batuan/chromite (FeCr2O4) dan chomic okside (Cr2O3) (Novotny dan Olem, 1994) Kadar kromium maksimum yang diperkenankan bagi kepentingan air minum adalah 0,05 mg/l (Sawyer dan McCarty, 1978).  Kadar kromium pada perairan tawar biasanya kurang dari 0,00005 mg/l. kromium trivalent biasanya tidak ditemukan pada perairan  tawar, sednagkan pada perairan  laut sekitar 50%. Kromium merupakan kromiium trivalent ( McNeely et al., 1979)
          Garam-garam kromium yang masuk kedalam tubuh manusia akan segera dikeluarkan oleh tubuh. Akan tetapi, jika kadar kromium tersebut cukup besar, akan mengakibatkan kerusakan pada sistem pencernaan. Kadar kromium yang diperkenankan pada air minum adalah 0,05 mg/l (Davis dan Cornwell, 1991). Toksisitas kromium dipengaruhi oleh bentuk oksidasi kromium, suhu, dan pH. Kadar kromium yang diperkirakan aman dalam kehidupan akuatik adalah sekitar 0,05mg/l (Moore, 1991). Kadar kromium 0,1 mg/l dianggap berbahaya bagi kehidupan organisme laut.
        Garam-garam kromium digunakan dalam  industri besi baja, cat, bahan celupan, (Dyes). Bahan peledak tekstil, kertas, keramik, gelas, fotografi, sebgai penghambat korosi, dansebagai campuran lumpur pengeboran ( drilling mud). Kromium    dapat masuk ke dalam air karena kontaminasi oleh limbah cair industry. Selain itu senyawa chromium sering juga ditambahkan pada air pendingin (cooling water) sebagai pencegah korosi.
           Logam krom (Cr) adalah salah satu jenis polutan logam berat yang bersifat toksik, dalam tubuh logam krom biasanya berada dalam keadaan sebagai ion Cr3+. Krom dapat menyebabkan kanker paru-paru, kerusakan hati (liver) dan ginjal. Jika kontak dengan kulit menyebabkan iritasi dan jika tertelan dapat menyebabkan sakit perut dan muntah. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengurangi kadar pencemar pada perairan biasanya dilakukan melalui kombinasi proses biologi, fisika dan kimia. Pada proses fisika, dilakukan dengan mengalirkan air yang tercemar ke dalam bak penampung yang telah diisi campuran pasir, kerikil serta ijuk. Hal ini lebih ditujukan untuk mengurangi atau menghilangkan kotoran-kotoran kasar dan penyisihan lumpur. Pada proses kimia, dilakukan dengan menambahkan bahan-bahan kimia untuk mengendapkan zat pencemar misalnya persenyawaan karbonat.
        Kromium(III) adalah esensial bagi manusia dan kekurangan dapat menyebabkan kondisi jantung, gangguan dari metabolisme dan diabetes. Tapi terlalu banyak penyerapan kromium (III) dapat menyebabkan efek kesehatan juga, misalnya ruam kulit.

        Kromium(VI) adalah bahaya bagi kesehatan manusia, terutama bagi orang-orang yang bekerja di industri baja dan tekstil. Orang yang merokok tembakau juga memiliki kesempatan yang lebih tinggi terpapar kromium

           Kromium(VI) diketahui menyebabkan berbagai efek kesehatan. sebuah senyawa dalam produk kulit, dapat menyebabkan reaksi alergi, seperti ruam kulit. Pada saat bernapas ada krom (VI) dapat menyebabkan iritasi dan hidung mimisan. Masalah kesehatan lainnya yang disebabkan oleh kromium (VI) adalah:
·         kulit ruam
·         sakit perut dan bisul
·          Masalah pernapasan
·          Sistem kekebalan yang lemah
·          Ginjal dan kerusakan hati
·          Perubahan materi genetik
·          Kanker paru-paru
·          Kematian

    Bahaya kesehatan yang berkaitan dengan kromium bergantung pada keadaan oksidasi. Bentuk logam (krom sebagaimana yang ada dalam produk ini) adalah toksisitas rendah. Bentuk yang hexavalent beracun. Efek samping dari bentuk hexavalent pada kulit mungkin termasuk dermatitis, dan reaksi alergi kulit. Gejala pernafasan termasuk batuk, sesak napas, dan hidung gatal.

    Kadar kromium sebasar 2µ/l dapat menghambat pertumbuhan microalgae, dan kadar kromium sebesar 20µ/l dapat menghambat pertumbuhan chorella pyrenoidosa  dan clamidomonas reinhardii ( Canadian, Cuoncil of resource and environment minister, 1987)



DAFTAR PUSTAKA
Effendi, Hefni. 2003.Telaah Kualitas Air.Yogyakarta: Penerbit Kanisius.





0 komentar:

Post a Comment